Hubungan pH Tanah dan Unsur Hara
Pentingnya pH adalah untuk menentukan mudah tidaknya
unsur-unsur hara diserap tanaman. Pada tanaman yang sekitar pH netral,
disebakan karena pH tersebut kebanyakan unsur hara larut dalam air. Ditinjau
dari berbagai segi, tanah yang mempunyai pH antara 6-7 merupakan pH yang
terbaik (netral), pada pH dibawah 7 merupakan tanah yang masam sehingga unsur P
tidak dapat diserap tanaman karena diikat (difiksasi) oleh Al sedangkan
pada tanah alkalis pHnya berkisar antara 8-14 sehingga unsur P juga tidak dapat
diserap oleh tanaman karena difikasi atau diikat oleh Ca. Penanggullangan
tanah yang terlalu masam dapat dinaikkan dengan menambah kapur pada tanah itu,
sedangkan tanah yang terlalu alkalis dapat diturunkan pHnya dengan cara
penambahan belerang.
pH tanah
menunjukkan derajat keasaman tanah atau keseimbangan antara konsentrasi H+ dan
OH- dalam larutan tanah. Apabila konsentrasi H+ dalam larutan tanah lebih
banyak dari OH- maka suasana larutan tanah menjadi asam, sebalikya bila
konsentrasi OH- lebih banyak dari pada konsentrasi H+ maka suasana tanah
menjadi basa. pH tanah sangat menentukan pertumbuhan dan produksi tanaman
makanan ternak, bahkan berpengaruh pula pada kualitas hijauan makanan ternak.
PH tanah yang optimal bagi pertumbuhan kebanyakan tanaman makanana ternak
adalah antara 5,6-6,0. Pada tanah pH lebih rendah dari 5.6 pada umumnya
pertumbuhan tanaman menjadi terhambat akibat rendahnya ketersediaan unsur hara
penting seperti fosfor dan nitrogen. Bila pH lebih rendah dari 4.0 pada umumnya
terjadi kenaikan Al3+ dalam larutan tanah yang berdampak secara fisik merusak
sistem perakaran, terutama akar-akar muda, sehingga pertumbuhan tanaman
menjadia terhambat.
Unsur hara yang melarut dalam larutan tanah berasal dari
beberapa sumber seperti pelapukan mineral primer, dekomposisi bahan organik,
deposisi dari atmosfer, aplikasi bahan pupuk, rembesan air tanah dari tempat
lain, dan lainnya. Kondisi pH tanah merupakan faktor penting yang
menentukan kelarutan unsur yang cenderung berkesetimbangan dengan fase padatan
. Kelarutan oksida- oksida hidrous dari Fe dan Al secara langsung tergantung
pada konsentrasi hidroksil (OH) dan menurun kalah pH meningkat.
Pengaruh pH
terhadap tanah Reaksi tanah (pH) mempunyai peranan yang penting terhadap
ketersediaan unsur-unsur hara, baik hara makro maupun hara mikro. Meningkatnya
kelarutan ion¬ion Al, dan Fe dan juga meningkatnya aktifitas jasad-jasad renik
tanah sangat dipengaruhi oleh keadaan pH tanah pH dan ketersediaan unsur-unsur
hara Reaksi tanah berpengaruh terhadap ketersediaan unsur-unsur hara di dalam
tanah. Pada umumnya unsur hara makro akan lebih tersedia pada pH agak masam
sampai netral, sedangkan unsur hara mikro kebalikannya yakni lebih tersedia
pada pH yang lebih rendah. Tersedianya unsur hara makro, seperrti nitrogen,
fosfor, kalium dan magnesium pada pH 6.5. Unsur hara fofor pada pH lebih besar
dari 8.0 tidak tersedia karena diikat oleh ion Ca. Sebaliknya jika pH turun
menjadi lebih kecil dari 5.0, maka fisfat kembali menjadi tidak tersedia. Hal
ini dapat menjadi karena dalam kondisi pH masam, unsur-unsur seperti Al, Fe,
dan Mn menjadi sangat larut. Fosfat yang semula tersedia akan diikat oleh
logam-logam tadi sehingga, tidak larut dan tidak tersedia untuk tanaman.
Beberapa tanaman tertentu dapat kekurangan unsur hara mikro seperti Fe dan Mn.
Untuk memperoleh ketersediaan hara yang optimum bagi pertumbuhan tanaman dan
kegiatan biologis di dalam tanah, maka pH tanah harus dipertahankan pada pH
sekitar 6.0 – 7.0.
Setiap jenis
tanaman berbeda sifat kepekaan dan ketahanannya terhadap reaksi tanah.
Pengaruh pH tanah baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap
akar tanaman dan ketersediaan unsur hara bagi tanaman telah banyak diteliti.
Buruknya pertumbuhan tanaman pada pH
rendah disebabkan oleh :
a. Perusakan
langsung oleh H+
b. Terganggunya
serapan Ca dan N
c. Meningkatnya
kelarutan Al, Fe dan Mn sehingga meracuni tanaman
d. Berkurangnya
ketersediaan Mo dan P serta
e. Berkurangnya
kandungan basa seperti Ca, Mg dan K.
Demikian
pula pH yang terlalu tinggi tidak baik bagi pertumbuhan tanaman, karena unsur hara mikro (Zn,
Cu, B, Fe dan Mn) kurang tersedia bagi tanaman dan P diendapkan oleh Ca.
Arti pH
dalam Perharaan
Kebanyakan
tanaman toleran pada pH yang ekstrim, tinggi dan rendah , asalkan dalam tanah
tersebu tersedia hara yang cukup . sayangnya tersedianya unsur
hara yang cukup itu dipengaruhi oleh pH . beberapa unsur hara tidak
tersedia pada pH ekstrim, dan beberapa unsur lainnya berada pada
tingkat meracun .
Perharaan yang sangat dipengaruhi
oleh pH antara lain adalah :
a. Kalsium
dan magnesium dapat ditukar
b. Alumunium
dan unsur mikro
c. Ketersediaan
fosfor
d. Perharaan
yang bersifat atau berkaitan dengan kegiatan jasad mikro.
a. Kalsium dan magnesium dapat ditukar
Di wilayah
basah terjadi pencucian yang intensif . akibatnya sebagian besar dari Ca dan Mg
akan hilang dari permukaan koloid tanah. Hal ini menyebabkan pH tanah beralih
menjadi lebih rendah atau kata lain tanah semakin masam . oleh karena itu
diwilayah basah terdapat korelasi yang nyata antara pH dan jumlah kedua basa
dapat ditukar . sebaliknya didaerah kering juga terdapat kolerasi yang nyata
antara pH dengan Na dapat ditukar.
b.
Alumunium dan Unsur Mikro
Bila pH
tanah mineral rendah , sejumlah Al , Fe dan Mn menjadi sangat larut , sehingga
merupakan racun bagi tanaman ( Morries dan Piere , 1947 ) . sebaliknya bila pH
naik hingga netral atau diatasnya , dan diikuti hujan , jumlah
ion-ion tersebut akan berkurang dalam larutan tanah , sehingga
menyebabkan tanaman tertentu menderita kekurangan Fe dan Mn . kejadian ini bisa
ditemukan pada tanah berpasir masam dikapur berlebihan , atau pada
tanah alkalin kering. Jika pH tanah dapat dipertahankan antara 6 dan 7 kemungkinan
keracunan Al , Fe dan Mn dapat ditiadakan, sedangkan ketersedian Cu dan Zn
sangat menurun pada pH lebih dari 7. Ketresedian Mo juga sanagat bergantung
pada pH . pada tanah yang sangat masam ketersedian Mo tidak ada. Bila pH naik
hingga 6 atau lebih maka ketersediaan Mo meingkat. Berbeda halnya
dengan Bo yang tersedia dengan baik pada interval pH 5-8 . unsur ini
kurang tersedia bila pH dibawah 4 / > 8.
c.
Ketersediaan Fosfor
Ketersedian
P dipengaruhi sangat nyata oleh pH . bentuk ion P dalam tanah juga tergantung
pada pH larutan . pada pH agak tinggi ( basa ) ion HPO4 2-
2- adalah dominan. Bila pH tanah turun ion H2PO4 dan HPO4 akan dijumpai
bersamaan . makin masam reaksi tanah ion H2PO4 lah yang dominan.
Pada pH
rendah ion P mudah bersenyawa dengan Al, Fe dan Mn , membentuk senyawa yang
tidak larut akan diikat oleh Ca membentuk senyawa tidak larut. Dulu
dipertahankan orang sekitar kisaran pH 6 hingga 7 untuk membentuk P agar lebih
tersedia. Belakangan ditemukan bahwa pada pH lebih dari 6.0 P sudah kurang
tersedia ( Lutz, Genter dab Hawskins, 1972: Ferina,Sumner,Plank, dan Litsch,
1980; NurhayatiHakim, 1982 ). Tampaknya kelarutan maksimum dari P berada pada
pH 5,5 . mempertahankan pH 5.5 hingga 6 sangat berarti bagi penyediaan P pada
tanaman.
d.
Kegiatan Jasad Mikro
Dari
berbagai penelitian ternyata kegiatan jasad mikro dipengaruhi oleh pH larutan.
Hal ini mungkin akibat ion H atau akibat perharaan yang baru saja dijelaskan .
ketersediaan N banyak banyak diharapkan dari proses nitrifiksasi yang dibantu
oleh jasad mikro . beberapa unsur lainnya seperti P dan S juga diharapkan dari
mineralisasi umumnya, nitrifiksasi khususnya berkaitan erat dengan kegiatan
jasad mikro.
Pada
umumnya, bakteri dan aktinomisetes berfungsi lebih baik pada tanah mineral ber
pH sedang hingga tinggi . kegiatan mereka berkurang bila pH turun lebih rendah
dari 5.5 . pada ph rendah jamur dominan , sedangkan pada pH tinggi jamur
bersaing dengan bakteri daktinomisetes. Nitrifikasi dan fiksasi Nberlangsung
cepat pada tanah mineral ber pH lebih dari 5.5 . akan tetapi pelapukan,
aminisasi / amonifikasimasih berjalan pada pH agak rendah karena sebagian jamur
dapat membantu reaksi tersebut.
KONDISI KETERSEDIAAN HARA PADA BERBAGAI KISARAN pH
1. Sangat Tinggi
(diatas 8,5)
a.
Tanah alkali, sodik
b. Ca
dan Mg, kemungkinan tidak tersedia
c. Fospat
terjerap dalam bentuk Ca-P, Mg-P
d. Bila
kadar Na Tinggi, P terjerap menjadi Na-P yang mudah larut
e. Keracunan
Boron (B) pada tanah garaman dan Sodik
f. Persentase
Na tertukar (ESP) di atas 15 dapat menyebabkan kerusakan struktur.
g. Aktivitas
bakteri rendah
h. Proses
nitrifikasi menurun
i.
Ketersediaan hara mikro
menurun, kecuali Mo
2. Tinggi ( 7,0
– 8,5 )
a.
Penurunan ketersediaan
P dan B sehingga terjadi kekahatan hara P dan B
b. Kekahatan
Co, Cu, Fe, Mn dan Zn
c. Kadar
Ca dan Mg Tinggi
d.
Tanah alkali
3. Sedang (5,5 –
7,0)
a.
Sifat netral
b. Kisaran
pH yang baik untuk sebagianj besar tanaman
c. Kadar
hara (makro & mikro) optimum
d. Aktivitas
mikroorganisme optimum
e.
Sifat kimia tanah
optimum
4. Rendah
(<5,5)
a.
Tanah masam
b. Ion
Fosfat bersenyawa dengan Fe dan Al membentuk senyawa yang tidak cepat tersedia
bagi tanaman.
c. Semua
hara mikro (kecuali Mo) menjadi lebih tersedia dengan peningkatan kemasaman,
d. Ion
Al dilepaskan dari mineral lempung pada nilai pH di bawah 5,5 dan
e. Aktivitas
bakteri menurun
f.
Proses
nitrifikasi terhambat.
KESIMPULAN
•
Pertumbuhan Tanaman normal, bila suplai hara cukup & sesuai dengan saat
dibutuhkan
•
Reaksi larutan tanah (pH) merupakan pengontrol ketersediaan hara
•
Keseimbangan ketersediaan antar unsur hara harus selalu dijaga
0 komentar:
Posting Komentar